Senin, 11 Februari 2013

Irama Cinta part 1



Part 1 (Sehari di panti)

       *
    Sore ini, bagi gadis kecil ini tak seperti sore biasanya. Jikalau biasanya ia lebih memilih bermain masak-masakan dihalaman panti bersama teman sekamarnya Febby. Kini ia lebih memilih berdiam diri di kamar. Merenungi kembali, kejadian tadi pagi.
*
(FlashBack On)
    “Ify .. Kesini sebentar Nak!”
Tiba tiba Bunda Ira memanggil namanya. Ify yang malas berdiri menghampiri dengan enggan melangkahkan kakinya.
“Ada apa Bunda?” , ucap gadis kecil itu. Ify.
      Bunda Ira tersenyum kepadanya. Ify mengernyitkan dahinya, tak seperti biasanya bunda Ira tersenyum semanis itu kepadanya. Kecuali kalau ada maunya, contohnya, dengan senyum manis itu dan wajah agak memelas Bunda Ira akan menyuruhnya belanja kepasar. Ah, pasti kali ini juga ada maunya. Disebelah bunda Ira, berdiri seorang wanita paruh baya dengan senyum ia tunjukan pada Ify. Ify berpikir bahwa wanita ini adalah orang kaya. Terlihat dari gaya berpakaiannya Elegean. Ah, Ify bisa menebak orang orang seperti itu. Biasanya, Ingin mengangkat anak dari panti asuhan nya. Mengambil teman bermainnya. ‘Huh!’ Ify mendengus kesal! Ia tak suka dengan orang orang itu, orang orang yang suka mengambil teman bermainnya. Seperti teman pemudanya. Lalu siapakah lagi kali ini yang akan ia ambil?
“Ify, perkenalkan ini Tante Gina.” , ucap bunda Ira sambil melirik wanita yang disebut tante Gina itu.
Ify dengan cepat meraih tangan Tante Gina, mengecup punggung tangan beliau. Itu yang diajarkan Bunda Ira. Jika ada orang yang lebih tua dari kita! Hendaklah sopan!
Tante Gina tersenyum. “Namamu Ify?”
Ify mengangguk lalu tersenyum.
“Anak yang sopan. Saya suka.”. kali init ante Gina memujinya. Itu semua membuat rona merah malu di pipi Ify. Hei lihat, ia dipuji orang.
“Ify, maukan manggil Tante Gina dengan sebutan Mama? Kali ini, Tante Gina ingin mengasuhmu.”
Ify ternganga ketika mendengar pernyataan Bunda Ira. Mama? Hari ini Ify punya mama. Sungguh senang tak kentara menyelubungi hatinya. Ada perasaan iri. Ketika, teman temannya berhasil mendapat orang tua angkat. Sedangkan dirinya belum sama sekali. Kali ini impiannya terwujud, ia mempunyai seorang Ibu.
“Mama..”, ucap Ify parau. Lalu berhambur memeluk tante Gina seketika. Itu ungkapan terimakasih dari Ify.
“Ify juga punya kakak loh”
*
(flashback Off)

        Sungguh, Ify benar benar lupa. Bahwa ada kesedihan lain ketika ia memutuskan sesuatu. Ify lupa, jikalau ia harus meninggalkan panti pergi bersama keluarga barunya. Akankah keluarga lamanya dip anti akan terus bersamanya?. Ah, Ify mengetuk kepalanya kesal. Kenapa dirinya begitu bodoh tidak memikirkan keluarganya di panti? Di sisi laim ia ingin mempunyai keluarga, bercanda bersama dengan Mama, Papa, juga saudaranya. Namun, ia juga ingin tetap bermain bersama teman teman panti. Termasuk, teman sekamarnya. Febby. Ah, bagaimana ia bisa tidur pulas nanti. Jikalai tidak ada suara Febby menyanyikan Nina Bobo. Kuatkah ia menhana rindu tak bermain bersama Febby? Ah, mana tahan.
‘Krieekk ....
Suara pintu kamar terbuka, Ify kecil yang sedang merenung, terlonjak kaget. Ketika, seseorang masuk kedalamnya. Didapatinya seorang gadis sebaya nya yang amat ia kenal. Ify mengernyit dahinya bingung, Lihat! Ada yang aneh dari temannya itu. Febby. Disekitar mata cantik Febby, Ada air mata. Bisa ditebak barusan tadi Febby menangis. Ada apa? Bukankah itu hal yang aneh! Febby yang tomboy pantang menangis. Kini jelas jelas ada berkas air mata di kelopak matanya.
“Febby, kenapa menangis..?”
Yang disapa Febby, malah menggeleng lalu beranjak menenggelamkaj wajahnya ke bantal . membuat dada ify semakin sesak sungkan untuk pergi dari Febby.
“Febby, kenapa? Ayoo.. cerita sama Ify!”
Febby hanya menggeleng, tak beranjak dari bantalnya.
      Ify semakin kesal dibuatnya. Duh, Febby ini jangan sok merajuk deh, lihat Saja! Ify akan mengerjainya. Digelitiknya pinggul Febby yang sontak membuatnya tertawa geli. Ah, Ify paling ahli membuat temannya tertawa.
“ayo.. kenapa Febby nangis?! Atau Ify bakalan gelitikan lagi nih!...”
Ify sudah ancang ancang mengertakan jari jarinya. Namun malah ditanggapi lemparan bantal oleh Febby.
“Febby, takut.. Ify ninggalin Febby”
Hati Ify mencelos lemas. Tadinya yang sudah melupakan masalhnya tentang meninggalkan panti, sekarang terobrak abrik kembali. Ternyata, Febby sama dengan dirinya. Sama sama takut kehilangan satu sama lain. Ah, hati Ify semakin berat meninggalkan panti.


“Ify sayang Febby, Ify gak akan ninggalain Febby. Walaupun ninggalin, suatu saat nanti pasti ketemu.”, dipeluknya Febby. Seperti enggan untuk melepasnya. Dua gadis kecil itu, menumpahkan segala keluh kesah. mereka bermain, bercanda seharian. Serasa mereka tau, esok hari, mereka tak bisa berjumpa kembali.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com