Part 1 (Sehari di
panti)
*
Sore
ini, bagi gadis kecil ini tak seperti sore biasanya. Jikalau biasanya ia lebih
memilih bermain masak-masakan dihalaman
panti bersama teman sekamarnya Febby. Kini ia lebih memilih berdiam diri di
kamar. Merenungi kembali, kejadian tadi pagi.
*
(FlashBack On)
“Ify ..
Kesini sebentar Nak!”
Tiba tiba Bunda Ira memanggil namanya. Ify yang
malas berdiri menghampiri dengan enggan melangkahkan kakinya.
“Ada apa Bunda?” , ucap gadis kecil itu. Ify.
Bunda Ira tersenyum kepadanya. Ify
mengernyitkan dahinya, tak seperti biasanya bunda Ira tersenyum semanis itu
kepadanya. Kecuali kalau ada maunya, contohnya, dengan senyum manis itu dan
wajah agak memelas Bunda Ira akan menyuruhnya belanja kepasar. Ah, pasti kali
ini juga ada maunya. Disebelah bunda Ira, berdiri seorang wanita paruh baya
dengan senyum ia tunjukan pada Ify. Ify berpikir bahwa wanita ini adalah orang
kaya. Terlihat dari gaya berpakaiannya Elegean. Ah, Ify bisa menebak orang
orang seperti itu. Biasanya, Ingin mengangkat anak dari panti asuhan nya.
Mengambil teman bermainnya. ‘Huh!’ Ify mendengus kesal! Ia tak suka dengan
orang orang itu, orang orang yang suka mengambil teman bermainnya. Seperti
teman pemudanya. Lalu siapakah lagi kali ini yang akan ia ambil?
“Ify, perkenalkan ini Tante Gina.” , ucap bunda Ira sambil
melirik wanita yang disebut tante Gina itu.
Ify dengan cepat meraih tangan Tante Gina, mengecup
punggung tangan beliau. Itu yang diajarkan Bunda Ira. Jika ada orang yang lebih
tua dari kita! Hendaklah sopan!
Tante Gina tersenyum. “Namamu Ify?”
Ify mengangguk lalu tersenyum.
“Anak yang sopan. Saya suka.”. kali init ante Gina
memujinya. Itu semua membuat rona merah malu di pipi Ify. Hei lihat, ia dipuji
orang.
“Ify, maukan manggil Tante Gina dengan sebutan Mama?
Kali ini, Tante Gina ingin mengasuhmu.”
Ify ternganga ketika mendengar pernyataan Bunda Ira.
Mama? Hari ini Ify punya mama. Sungguh senang tak kentara menyelubungi hatinya.
Ada perasaan iri. Ketika, teman temannya berhasil mendapat orang tua angkat.
Sedangkan dirinya belum sama sekali. Kali ini impiannya terwujud, ia mempunyai
seorang Ibu.
“Mama..”, ucap Ify parau. Lalu berhambur memeluk
tante Gina seketika. Itu ungkapan terimakasih dari Ify.
“Ify juga punya kakak loh”
*
(flashback Off)
Sungguh, Ify benar benar lupa. Bahwa ada
kesedihan lain ketika ia memutuskan sesuatu. Ify lupa, jikalau ia harus
meninggalkan panti pergi bersama keluarga barunya. Akankah keluarga lamanya dip
anti akan terus bersamanya?. Ah, Ify mengetuk kepalanya kesal. Kenapa dirinya
begitu bodoh tidak memikirkan keluarganya di panti? Di sisi laim ia ingin
mempunyai keluarga, bercanda bersama dengan Mama, Papa, juga saudaranya. Namun,
ia juga ingin tetap bermain bersama teman teman panti. Termasuk, teman
sekamarnya. Febby. Ah, bagaimana ia bisa tidur pulas nanti. Jikalai tidak ada
suara Febby menyanyikan Nina Bobo. Kuatkah ia menhana rindu tak bermain bersama
Febby? Ah, mana tahan.
‘Krieekk .... ‘
Suara pintu kamar terbuka, Ify kecil yang sedang
merenung, terlonjak kaget. Ketika, seseorang masuk kedalamnya. Didapatinya seorang
gadis sebaya nya yang amat ia kenal. Ify mengernyit dahinya bingung, Lihat! Ada
yang aneh dari temannya itu. Febby. Disekitar mata cantik Febby, Ada air mata.
Bisa ditebak barusan tadi Febby menangis. Ada apa? Bukankah itu hal yang aneh!
Febby yang tomboy pantang menangis. Kini jelas jelas ada berkas air mata di
kelopak matanya.
“Febby, kenapa menangis..?”
Yang disapa Febby,
malah menggeleng lalu beranjak menenggelamkaj wajahnya ke bantal . membuat dada
ify semakin sesak sungkan untuk pergi dari Febby.
“Febby, kenapa? Ayoo..
cerita sama Ify!”
Febby hanya menggeleng,
tak beranjak dari bantalnya.
Ify semakin kesal dibuatnya. Duh, Febby
ini jangan sok merajuk deh, lihat Saja! Ify akan mengerjainya. Digelitiknya
pinggul Febby yang sontak membuatnya tertawa geli. Ah, Ify paling ahli membuat
temannya tertawa.
“ayo.. kenapa Febby
nangis?! Atau Ify bakalan gelitikan lagi nih!...”
Ify sudah ancang ancang
mengertakan jari jarinya. Namun malah ditanggapi lemparan bantal oleh Febby.
“Febby, takut.. Ify
ninggalin Febby”
Hati Ify mencelos
lemas. Tadinya yang sudah melupakan masalhnya tentang meninggalkan panti,
sekarang terobrak abrik kembali. Ternyata, Febby sama dengan dirinya. Sama sama
takut kehilangan satu sama lain. Ah, hati Ify semakin berat meninggalkan panti.
“Ify sayang Febby, Ify
gak akan ninggalain Febby. Walaupun ninggalin, suatu saat nanti pasti ketemu.”,
dipeluknya Febby. Seperti enggan untuk melepasnya. Dua gadis kecil itu,
menumpahkan segala keluh kesah. mereka bermain, bercanda seharian. Serasa
mereka tau, esok hari, mereka tak bisa berjumpa kembali.

0 komentar:
Posting Komentar