Kopi Rasa Berbeda
Angel menyesap secangkir kopi
hangat yang menemaninya sedari tadi. Menatap hujan, dari balik jendala. Seraya
menanti kehadiran seseorang.
Gadis berambut sebahu
itu, melirik jam tangan yang melingkar dilengannya. Pukul setengah enam. Sebentar lagi, batin Angel menerka. Ya,
sebentar lagi pemudanya akan datang. Dan rasa rindu nya akan tersalurkan.
Benar saja, tiba-tiba pintu café
berdenting tanda ada seseorang yang masuk. Tepat saat itu, seorang pemuda
melambai kearahnya. Lantas, menuju ke mejanya.
“Aku tak terlambat
bukan?.”
AllahuAkbar
Allahu Akbar…
Terdengar bunyi seruan
panggilan untuk umat Islam. Angel yang mendengarnya lantas tersenyum kecil.
“Tidak. Kau datang
tepat sekali!.”
Gilang-pemuda tadi
lantas memanggil seorang pelayan untuk memasan secangkir kopi. Ini sudah
waktunya untuk ia berbuka puasa. Untung saja ia tak terlambat. Seperti kemarin,
hanya karena jalanan di Jakarta yang tak bisa dikendalikan saat petang.
“Bagaimana dengan puasa
mu hari ini? Lancar?,” ucap Angel membuka percakapan, tepat saat pelayan datang
membawa secangkir Kopi untuk Gilang . Lantas segera ia menyesapnya. Rasanya
nikmat sekali… kopi untuk berbuka.
“Seperti yang
terlihat,” ucap Gilang seraya mengangkat cangkir kopi nya.
Angel hanya tersenyum
kecil. Lantas menyesap kopi nya. Yang tingal beberapa tetes.
“Besok jadi ke toko
buku?.”
Angel menggeleng pelan.
Lantas berkata, “Aku harus ke Gereja.”
Gilang mengangguk
paham. Lantas menatap kesamping dibalik jendela. Hujan telah reda. Ini waktunya
untuk pergi.
“Angel. Aku pergi dulu
yaa. Sampai jumpa besok,” ucap Gilang seraya pergi ke luar café. Meninggalkan
Angel yang masih menatap punggung Gilang yang lamat-lamat menghilang dalam
pandangannya.
Lantas beralih
menunduk, memandang kalung berbandul salip
yang dikenakannya. Kemudian kembali menerawang keluar jendela melamun
membayang bagaimana kekasihnya, Gilang tadi. Pemuda jangkung dengan peci putih
di kepalanya. Sebagai ciri khas, kalau ia muslim sejati.
Follow
Author : Erni Tsania Maulida
