Jumat, 03 Mei 2013

KOPI RASA BERBEDA



Kopi Rasa Berbeda




            Angel menyesap secangkir kopi hangat yang menemaninya sedari tadi. Menatap hujan, dari balik jendala. Seraya menanti kehadiran seseorang.
Gadis berambut sebahu itu, melirik jam tangan yang melingkar dilengannya. Pukul setengah enam. Sebentar lagi, batin Angel menerka. Ya, sebentar lagi pemudanya akan datang. Dan rasa rindu nya akan tersalurkan.

          Benar saja, tiba-tiba pintu café berdenting tanda ada seseorang yang masuk. Tepat saat itu, seorang pemuda melambai kearahnya. Lantas, menuju ke mejanya.

“Aku tak terlambat bukan?.”

AllahuAkbar Allahu Akbar

Terdengar bunyi seruan panggilan untuk umat Islam. Angel yang mendengarnya lantas tersenyum kecil.

“Tidak. Kau datang tepat sekali!.”

Gilang-pemuda tadi lantas memanggil seorang pelayan untuk memasan secangkir kopi. Ini sudah waktunya untuk ia berbuka puasa. Untung saja ia tak terlambat. Seperti kemarin, hanya karena jalanan di Jakarta yang tak bisa dikendalikan saat petang.

“Bagaimana dengan puasa mu hari ini? Lancar?,” ucap Angel membuka percakapan, tepat saat pelayan datang membawa secangkir Kopi untuk Gilang . Lantas segera ia menyesapnya. Rasanya nikmat sekali kopi untuk berbuka.

“Seperti yang terlihat,” ucap Gilang seraya mengangkat cangkir kopi nya.
Angel hanya tersenyum kecil. Lantas menyesap kopi nya. Yang tingal beberapa tetes.
“Besok jadi ke toko buku?.”

Angel menggeleng pelan. Lantas berkata, “Aku harus ke Gereja.”
Gilang mengangguk paham. Lantas menatap kesamping dibalik jendela. Hujan telah reda. Ini waktunya untuk pergi.

“Angel. Aku pergi dulu yaa. Sampai jumpa besok,” ucap Gilang seraya pergi ke luar café. Meninggalkan Angel yang masih menatap punggung Gilang yang lamat-lamat menghilang dalam pandangannya.
Lantas beralih menunduk, memandang kalung berbandul salip yang dikenakannya. Kemudian kembali menerawang keluar jendela melamun membayang bagaimana kekasihnya, Gilang tadi. Pemuda jangkung dengan peci putih di kepalanya. Sebagai ciri khas, kalau ia muslim sejati.

Ternyata memang kita berbeda, ucap Angel lirih. Seolah baru menyadarinya.


Follow @PikaStep

Author : Erni Tsania Maulida
 

Blog Template by BloggerCandy.com