Selasa, 04 September 2012

Fatimah binti husain


Fatimah binti husain


Berayahkan Husain bin Ali bin Abi Thalib telah menempatkan Fathimah binti Husain pada posisi mulia sebagai salah seorang keturunan Rasulullah saw dari jalur putrinya, Fathimah Az-Zahra. Ibunya adalah Ummu Kultsum binti Thalhah bin Ubaidilah. Kakeknya, Thalhah bin Ubaidilah, seorang sahabat Rasulullah yang setia—yang merupakan barisan pertama pemeluk Islam—telah dijamin masuk surga.
  Kemuliaan keturunan yang dimiliki Fathimah dilengkapinya pula dengan kemuliaan akhlak dan ketinggian ilmu. Kecantikan wajahnya menambah kesempurnaan sosok Fathimah binti Husain.
  Dalam bidang keilmuan, Fathimah meriwayatkan banyak hadits Rasulullah langsung dari para sahabat dan para tabi’in. Hadits-hadits yang dia riwayatkan lalu diriwayatkan lagi oleh para tabi’in dan para ulama lainnya, laki-laki maupun perempuan. Hadits-hadits darinya digolongkan sebagai hadits yang dapat diterima dan dapat dijadikan dalil. 
  Saat Husain, ayahnya, berangkat menuju Kufah (Irak) untuk menemui Yazid bin Mu’awiyah, Fathimah ikut dalam rombongan yang mengikuti ayahnya. Ketika sebagian besar rombongan dibunuh, termasuk ayahnya, oleh pasukan Yazid di Karbala, Fathimah merasakan kesedihan sekaligus kemarahan yang meluap. Dengan berani ia menanyakan sambil menyindir apa yang hendak Yazid lakukan dengan putri-putri keturunan Rasulullah ini. Yazid tak berniat melakukan apa-apa dan mengembalikan para perempuan keluarga Ali bin Abi Thalib itu ke Madinah.   
  Fathimah yang lahir pada tahun 40 H ini menikah dengan sepupunya, Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan yang menggabungkan keturunan Hasan dan Husain ini lahirlah lima anak yang dididik Fathimah agar memiliki akhlak mulia dan ilmu yang luas. Tak heran bila kelak anak-anaknya menjadi ulama dan pemimpin, terutama anak sulungnya Abdullah bin Hasan.
  Kebahagiaan yang dirasakannya bersama Hasan ternyata tak lama. Tujuh tahun setelah pernikahan, Hasan meninggal dunia. Sepeninggal suaminya, Fathimah menikah lagi dengan Abdullah bin Amr dengan mahar satu juta dirham. Dari suaminya ini Fathimah melahirkan tiga anak.
  Di masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz tahun 99 H, para keturunan Nabi Muhammad saw mendapat perhatian yang begitu besar. Khalifah Umar menghormati dan mencukupi kebutuhan mereka semua. Terhadap Fathimah, penghormatan Umar lebih besar lagi. Baginya, putri Husain itu tidak mengenal keburukan. Fathimah amat menghargai penghormatan itu dan saat Umar wafat ia pun begitu sedih.
  Kata-kata yang keluar dari bibir Fathimah selalu berisi kebaikan. Rasa malu menjadi perhiasannya sehari-hari. Ia tak pernah berbicara  banyak di luar keperluannya. Baginya zikir lebih utama. Wanita mulia dari keturunan yang mulia ini wafat pada tahun 110 H. (Asmawati)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com